Peyorasi dan Ameliorasi dalam Bahasa Gaul Kekinian

Herlina Inge Tomasoa, S.S., M.Hum.
Penelaah Teknis Kebijakan Balai Bahasa Provinsi Maluku 

Bahasa bukan hanya sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan dinamika budaya, sosial, dan psikologis masyarakat yang menggunakannya. Perkembangan teknologi digital, khususnya media sosial telah menciptakan ruang-ruang baru bagi bahasa untuk tumbuh dan bertransformasi. Di kalangan generasi muda, pada setiap generasi, bahasa gaul berkembang pesat sebagai wujud ekspresi identitas, solidaritas kelompok, resistensi terhadap norma, bahkan sebagai strategi bertahan di tengah-tengah tekanan sosial dan budaya di lingkungannya.

Di Indonesia, bahasa gaul tidak hanya tumbuh dan berkembang pada era kini saja. Contohnya, bahasa prokem, yaitu kosakata tertentu yang digunakan oleh kaum remaja atau bisa disebut bahasa gaul remaja. Salah satu ciri khas ragam bahasa ini adalah penggunaan pola tertentu untuk menciptakan kata baru, misalnya dengan penyisipan huruf o dan kserta penghilangan huruf atau suku kata akhir pada  bapak menjadi bokap atau gila menjadi gokil. Menurut Chaer (2003), bahasa prokem merupakan salah satu bentuk sandi yang berkembang di kalangan remaja dengan fungsi utama sebagai alat komunikasi kelompok agar tidak dimengerti oleh orang luar. Penyisipan –ok– dan penghilangan huruf atau suku kata terakhir merupakan strategi linguistik untuk menciptakan bentuk sandi.

Bahasa gaul kekinian yang tumbuh dan berkembang dengan pesat yang dimulai dari media sosial, memiliki karakteristik khas, seperti mencampurkan bahasa asing, memelesetkan makna, serta menggunakan nada sarkasme atau satire. Karakteristik tersebut secara langsung mendorong terjadinya proses peyorasi dan ameliorasi. 

Menurut Chaer (2009), peyorasi merupakan perubahan makna dari netral atau positif menjadi negatif yang biasanya disebabkan oleh pergeseran nilai dalam masyarakat terhadap referen kata tersebut. Sebaliknya, menurut Allan dan Burridige (2006), ameliorasi adalah perubahan makna dari negatif menjadi lebih halus atau positif sebagai bentuk pelunakan makna atau rehabilitasi kata yang sebelumnya dianggap tabu. Kedua proses tersebut memperlihatkan  bahasa gaul tidak hanya bersifat ekspresif, tetapi juga reflektif terhadap realitas sosial yang melatarbelakanginya.

Peyorasi dalam Bahasa Gaul Kekinian

Fenomena peyorasi dalam bahasa gaul kekinian mencerminkan cara masyarakat digital secara aktif memberi muatan negatif terhadap kata-kata tertentu yang sebelumnya netral atau  positif. Melalui interaksi yang terus-menerus di media sosial, makna kata dapat bergeser seiring perubahan persepsi kolektif dan penggunaan dalam konteks yang menyudutkan. Dalam banyak kasus, peyorasi muncul sebagai respons terhadap stereotipe sosial, candaan, hingga kritik terselubung terhadap kelompok atau perilaku tertentu. Contoh kata peyorasi yang digunakan adalah kabupaten dan jajan.

Kata kabupaten merupakan istilah netral yang merujuk pada satuan pemerintah di bawah provinsi. Akan tetapi, dalam bahasa gaul kekinian, kata tersebut digunakan untuk menyindir gaya hidup, pemikiran, atau perilaku seseorang yang sudah usang atau tidak modern dan tidak mengikuti tren. Contoh penggunaannya adalah “Gaya lu kabupaten banget”, yang bermakna ‘merendahkan selera atau gaya seseorang’.

Selanjutnya, kata jajan yang bermakna  ‘kegiatan membeli makanan kecil atau camilan’ sebagaimana tercantum dalam KBBI Edisi VI. Namun, dalam bahasa gaul kekinian, kata tersebut mengalami peyorasi yang cukup tajam. Kata jajandigunakan secara implisit untuk merujuk pada tindakan membeli jasa seksual, terutama dalam konteks laki-laki yang mencari pemuas di luar hubungan pernikahan. Kalimat “Dia suka jajan di luar”, telah mengalami perluasan makna harfiah yang menyimpang secara nilai dan mengandung konotasi negatif.

Dari kedua contoh tersebut, proses peyorasi ini memperlihatkan proses bahasa dapat ikut memperkuat stigma terhadap kondisi sosial budaya dalam masyarakat yang secara khusus kebanyakan mengarah pada degradasi perempuan.

Ameliorasi dalam Bahasa Gaul Kekinian

Meningkatnya ruang kreatif bagi generasi muda melalui perkembangan teknologi, khususnya media sosial telah mendorong munculnya berbagai bentuk ekspresi yang unik, termasuk kata baru dan kata ubahan khususnya yang diubah dengan mengganti akhir sebuah kata dengan huruf y Kebanyakan kata-kata baru ini mengalami ameliorasi. Huruf y sering kali ditambahkan atau menggantikan bunyi/huruf lainnya untuk memberikan nuansa jenaka, santai, atau bersahabat dan digunakan untuk memodifikasi kata yang sebelumnya memiliki konotasi kasar atau formal agar menjadi lebih ringan dan dapat diterima dalam komunikasi sehari-hari. Contoh kata yang ditambahkan huruf y yang mengalami ameliorasi adalah anjay dan meninggoy.

Kata anjay, yang berakar dari kata anjing mengalami pelunakan makna dan kini digunakan dalam berbagai ekspresi, seperti kagum, heran, dan kaget. Kalimat “Anjay, lu keren banget” memiliki konotasi kagum terhadap seseorang, tidak lagi menjadi makian. Transformasi tersebut mengaburkan makna kasar dari kata anjing dan menjadi bagian dari gaya tutur populer yang tidak lagi dianggap ofensif oleh generasi sebaya.

Contoh selanjutnya, kata meninggoy mengalami ameliorasi yang mirip dengan anjay. Kata tersebut muncul bukan sebagai informasi bahwa ada orang yang meninggal, melainkan menjadi ekspresi seseorang dalam menyampaikan sesuatu. Kalimat “Enaknya sampai bikin meninggoy”, mengekspresikan kenikmatan atau kelezatan yang luar biasa dengan mengganti kata meninggal menjadi meninggoy. Mengubah makna awal yang  dilingkupi kesedihan menjadi kata yang bermakna kesenangan ekstrem yang dibalut humor.Fenomena peyorasi dan ameliorasi dalam bahasa gaul kekinian menunjukkan bahwa bahasa bersifat dinamis, berkembang mengikuti dinamika sosial, budaya, dan psikologis masyarakat yang menggunakannya. Hal tersebut terbukti dengan munculnya kata-kata baru yang diadopsi oleh setiap generasi sampai gen z dan gen alfa. Proses peyorasi dan ameliorasi ini menunjukkan bahwa bahasa tetap menjadi pengaruh terhadap sebuah stigma sosial budaya masyarakat.  Dengan demikian, mempelajari perubahan makna dalam bahasa gaul bukan hanya penting dalam lingkup linguistik, melainkan juga dalam memahami cara masyarakat memaknai ulang realitas, membentuk identitas, serta merespons tekanan dan tuntutan sosial melalui bahasa. Oleh karena itu, kajian terhadap fenomena peyorasi dan ameliorasi perlu dilakukan terus-menerus agar masyarakat dapat memahami bahwa bahasa bisa menjadi cermin atau alat kuasa dalam masyarakat digital masa kini.

Scroll to Top