Tren Penggunaan Home Base dan Non-Home Base

Tenti Septiana, S.Hum.
Penelaah Teknis Kebijakan Balai Bahasa Provinsi Maluku

Dalam beberapa bulan terakhir, tren penggunaan istilah non-home base oleh CPNS di media sosial TikTok telah menarik perhatian. Biasanya, unggahan tersebut disertai tagar #NonHomeBase atau #POVSeberapaJauhCPNSMembawamu yang menceritakan pengalaman penempatan kerja di luar daerah asal mereka atau bahkan di daerah-daerah yang belum pernah mereka datangi sebelumnya. Tren ini tidak hanya menarik dari sisi fenomena mobilitas antardaerah, tetapi juga praktik penerjemahan bahasa yang mencerminkan negosiasi makna dan identitas sosial. Istilah nonhome base diadopsi, diolah, dan dimaknai oleh generasi muda, khususnya generasi Z.

Istilah berbahasa Inggris yang sedang tren tersebut apabila dimaknai secara leksikal dalam bahasa Inggris sebagaimana yang disebutkan dalam dictionary.cambridge.org (diakses pada tanggal 10 Juni 2025), home base mempunyai dua makna. Makna pertama merujuk pada olahraga, khususnya bisbol, yaitu titik awal dan akhir pelari, sedangkan makna kedua merujuk pada tempat  seseorang atau sesuatu biasanya tinggal, bekerja, atau beroperasi.

Menariknya, jauh sebelum menjadi sebuah tren, home base telah menjadi istilah yang lazim dipakai dalam ranah dalam berbagai ranah, seperti militer, olahraga, pekerjaan dan bisnis, transportasi, akademik, ataupun personal. Pada ranah militer, home base merujuk pada pangkalan, markas, ataupun pusat operasional. Arsip pidato yang berjudul “Pembekalan Presiden RI kepada Calon Perwira Remaja Akmil dan Akpol” dalam laman Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia yang dipublikasikan pada tanggal 11 Juli 2012 menyandingkan home base dengan pangkalan, daerah operasi, dan daerah pertempuran. Hal ini menunjukkan bahwa home base dipahami sebagai salah satu jenis lokasi penugasan militer yang setara pentingnya dengan pangkalan. Selanjutnya, contoh lain jejak penggunaan istilah home base di ranah akademik adalah pada dokumen resmi IAIN Manado berjudul “Pedoman Home Base Dosen” yang diterbitkan pada tahun 2015. Dokumen tersebut secara eksplisit mendefinisikan home base dosen sebagai tempat tugas utama dosen menurut jurusan/program studi S-1 dan S-2. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa home base tidak hanya istilah formal, tetapi sebuah konsep yang mempunyai tujuan dan sasaran jelas dalam tata kelola perguruan tinggi. Di sisi lain, home base juga merujuk pada ranah transportrasi. Tamin (1997) mengklasifikasikan tentang bangkitan pergerakan (trip generation) menjadi dua, yaitu home base trip yang berarti ‘pergerakan berbasis rumah’ dan non home base trip yang berarti ‘pergerakan berbasis bukan rumah’. Jadi, makna dari istilah home base telah mapan dan terstruktur jauh sebelum munculnya tren media sosial.

Tren penggunaan istilah non-home base oleh CPNS di media sosial TikTok adalah contoh menarik bagaimana bahasa berkembang dan beradaptasi dalam konteks digital. Dalam konteks globalisasi, banyak konsep baru, khususnya dalam bahasa Inggris, kerap diadopsi. Bahasa Indonesia, dalam menyikapi hal ini, melihatnya sebagai salah satu sumber penting untuk memperkaya khazanah perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Proses penyerapan dan adaptasi ini diatur dalam Pedoman Umum Pembentukan Istilah yang menguraikan tiga metode dalam memadankan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia, yaitu penerjemahan, penyerapan, dan gabungan keduanya.  Istilah home base yang telah digunakan dalam berbagai ranah sehingga menimbulkan banyak makna sesuai dengan konteks penggunaannya dan menggambarkan bagaimana akhirnya istilah ini diserap secara utuh. Buku Seri Penyuluhan Bahasa IndonesiaTata Istilah (2019) mengungkapkan bahwa penyerapan secara utuh adalah penyerapan tanpa adanya penyesuaian ejaan dan lafal. Selain itu, dalam buku tersebut juga mengungkapkan memadankan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia dengan cara penyerapan dapat dilakukan dengan tujuan penggunaan bentuk asli lebih ringkas daripada diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, contohnya istilah home base ranah akademik yang diterjemahkan menjadi ‘tempat tugas utama dosen’. Oleh karena itu, dalam konteks tren ini, metode penyerapan merupakan salah satu cara yang efektif untuk digunakan dalam menyikapi maraknya konsep bahasa asing yang muncul. 

Lebih lanjut, dari sisi penerjemahan, Susan Basnett mengungkapkan bahwa “translation is not just a linguistic, but a cultural negotiation” yang berarti ‘terjemahan tidak hanya sebuah tata bahasa, tetapi juga sebuah negosiasi rasa dan budaya di dalamnya’. Jadi, menerjemahkan istilah  non-home base  juga sebaiknya memperhatikan konteks agar keberhasilan terjemahan tercapai. Dilihat dari konteks (pragmatik) tren yang sedang popular, istilah non-home base adalah sebagai penanda kelompok CPNS dengan pengalaman penempatannya. Hanya kelompok tersebut yang dapat memahami konteks istilah non-home base sepenuhnya dari makna ataupun rasa emosionalnya karena mereka mempunyai pengalaman dan referensi konteks yang sama. Menerjemahkan secara harfiah istilah tersebut akan menghilangkan kekayaan makna kontekstualnya. Oleh karena itu, dalam beberapa kasus penerjemahan, mempertahankan bentuk asli justru akan menjaga makna secara utuh.

Firman Aziz (2018) mengungkapkan bahwa pada tahap awal, penyerapan atau peminjaman atau pemungutan bahasa lain (bahasa asing atau bahasa daerah) mungkin masih berupa interferensi, tetapi lambat laun peristiwa tersebut akan berubah menjadi integrasi. Dibutuhkan waktu yang lama sampai akhirnya hal itu menjadi sebuah integrasi. Gambaran bagaimana perjalanan dan perkembangan penggunaan istilah home base dan non-home base menunjukkan bagaimana proses integrasi itu. Penyerapan dan mempertahankan bentuk asli menjadi pilihan akhir dalam berbagai konteks penggunaan istilah tersebut. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi pilihan lebih baik apabila terdapat kondisi tertentu, seperti kesulitan dalam penyerapan ataupun kondisi perbedaan ejaan dan lafal. Dengan tetap mempertimbangkan maknanya, kondisi-kondisi tersebut menjadikan penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia menjadi pilihan terbaik untuk menyikapi munculnya konsep-konsep baru dari bahasa asing ataupun bahasa daerah.

Scroll to Top