Bertanya dengan Nada Santai: Adaptasi Kesantunan Berbahasa di Jejaring Sosial

Wahyudi Pasapan, S.S.
Widyabasa Ahli Pertama Balai Bahasa Provinsi Maluku

Perkembangan jejaring sosial belakangan ini terus memunculkan hal-hal menarik. Platform yang terus berkembang, fitur-fitur yang mutakhir, dan gaya bahasa yang digunakan di dalamnya tentu saja telah menjadi hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Harus diakui bahwa pada zaman ini, semua informasi bisa menyebar dengan sangat cepat melalui media sosial. Media sosial memberikan ruang bebas bagi masyarakat penggunanya untuk membagikan informasi serta memberikan tanggapan terhadap informasi tersebut. Bahkan, hampir semua platform jejaring sosial menyediakan ruang obrolan dan kolom komentar sehingga penggunanya dapat berinteraksi dan saling berbalas komentar. Ruang dan kebebasan yang tersedia tersebut memunculkan beragam bentuk ekspresi dari netizen. 

Meskipun interaksi dan komunikasi melalui jejaring sosial banyak memberikan kemudahan  (salah satunya adalah tanpa batasan ruang dan waktu), interaksi itu juga memiliki kekurangan yang membedakan dari interaksi dan komunikasi langsung secara tatap muka. Dengan bersemuka, ekspresi dapat dilihat dan dirasakan secara langsung, sedangkan komunikasi di media sosial, ekspresi para pengguna tidak bisa terlihat secara langsung sehingga pembaca hanya mengandalkan penafsiran. Dalam beberapa waktu belakangan, kita mungkin sering membaca komentar atau meninggalkan komentar di media sosial dengan kalimat yang diakhiri frasa bertanya dengan nada santai.

Penggunaan frasa tersebut dalam interaksi digital berkaitan dengan kesantunan berbahasa. Kesantunan berbahasa merupakan salah satu aspek yang penting dalam komunikasi, baik komunikasi lisan maupun komunikasi tulis dalam hal ini komunikasi di media sosial. Brown dan Levinson (1987) menjelaskan bahwa orang menjaga citra diri (face) mereka dan orang lain selama percakapan dengan menggunakan berbagai jenis strategi kesantunan. Dalam artikel yang berjudul Kesantunan Berbahasa dalam Media Sosial: Kajian Pragmatik terhadap Komentar Online (dipublikasikan melalui Jurnal Nakula, Vol. 2, 2024), Maghfiroh mengutip pendapat Herring bahwa kesantunan di media sosial juga terkait erat dengan konsep netiket. Netiket atau etika berinternet menekankan pentingnya menjaga norma dan nilai sosial dalam setiap interaksi digital, termasuk dalam komentar daring (online). Kurangnya kesadaran tentang netiket dapat berpengaruh pada meningkatnya ujaran kebencian dan pelecehan verbal di media sosial. 

Ada berbagai cara menunjukkan emosi di media sosial, seperti penambahan emoji atau emotikon, penggunaan huruf kapital dan nonkapital, dan pemilihan kata. Penambahan frasa bertanya dengan nada santai juga merupakan salah satu strategi pengguna media sosial untuk menunjukkan kesopanan dalam memberikan komentar terhadap suatu isu yang sedang diangkat. Terdapat kontradiksi dalam penggunaan frasa tersebut dalam komunikasi tertulis.  Seperti yang kita ketahui, nada suara hanya bisa didengar pada tuturan secara lisan. Namun, penambahan frasa tersebut dalam bentuk tulisan dapat membantu pembaca memahami situasi penulisnya. 

Penambahan elemen tersebut juga tidak bisa dipisahkan dengan konteksnya. Tren komentar bertanya dengan nada santai atau frasa sejenisnya dapat dijumpai, baik dalam situasi percakapan biasa maupun dalam pembahasan serius yang menyangkut isu-isu penting, seperti politik. Perhatikan kalimat berikut, “Kebijakan ini katanya untuk rakyat, tetapi kok rakyat banyak yang protes, ya? Bertanya dengan nada santai”. Kalimat tersebut berisi kritik terhadap sebuah kebijakan, tetapi dikemas dalam sebuah kalimat bernada pertanyaan. Selain itu, pernyataan itu juga disertai frasa bertanya dengan nada santai yang tampaknya bertujuan untuk mengantisipasi konflik dengan pendukung kebijakan yang sedang dikomentari tersebut. 

Secara pragmatik, penggunaan frasa bertanya dengan nada… bisa dipahami sebagai upaya penggunanya untuk mencapai tujuan tertentu, seperti (1) memberikan komentar/kritik tanpa menimbulkan konflik; (2) menunjukkan bahwa dirinya terbuka untuk diajak berdiskusi; (3) menjaga kesopanan dan kesantunan; dan (4) memberikan sindiran secara tidak langsung. Tidak hanya itu, tren ini juga kadang-kadang hanya digunakan untuk menambah kesan lucu pada tulisan seperti terlihat pada kalimat “Kamu apa kabar?” (bertanya dengan nada lemah lembut sambil senyum). Kalimat tersebut berbeda dengan kalimat sebelumnya yang sudah jelas bernada kritik. Pengunggah tidak sedang mengkritik, tetapi seolah hanya memperlihatkan ekspresinya ketika sedang menanyakan kabar. Ada juga penggunaan frasa serupa yang terkesan seperti lelucon, yaitu bertanya dengan nada deringbertanya dengan nada sopran, bertanya dengan nada lembut, cuma mau seru2an aja, dan sebagainya.

Tren penggunaan ungkapan seperti di atas merupakan upaya yang dilakukan oleh pengguna dalam menavigasi kebebasan berekspresi di media sosial. Meskipun konsep nada merujuk pada tuturan secara lisan, tetapi keberadaannya dalam interaksi tertulis di media sosial mampu melengkapi interpretasi pembacanya. 

Scroll to Top