Eka J. Saimima, S.S., M.A.
Penelaah Teknis Kebijakan Balai Bahasa Provinsi Maluku
Baru-baru ini, ada salah satu kejadian viral yang melibatkan seorang guru di Malaysia. Guru tersebut menegur murid-muridnya karena menggunakan kosakata bahasa Indonesia baku. Hal tersebut menegaskan bahwa bahasa Indonesia sedang mengalami internasionalisasi yang pesat. Sepertinya, kejadian kecil di kelas tersebut didukung oleh media sosial dan menyoroti perkembangan bahasa Indonesia yang signifikan, meluasnya pengaruh budaya, bahasa, serta kebijakan bahasa Indonesia di luar negara Indonesia sebagai hasil dari kebijakan strategis dan penggunaan teknologi daring yang meluas.

Bukan penggunaan bahasa gaul yang menyebabkan frustrasi guru tersebut, melainkan penyisipan kata-kata standar bahasa Indonesia, seperti merencanakan, teman-teman, dan rumah sakit ke dalam tugas berbahasa Melayu. Meskipun bahasa Indonesia dan bahasa Melayu berakar dari rumpun Melayu, ada sejumlah perbedaan antara bahasa Indonesia dan bahasa Melayu. Perkembangan nasional yang berbeda telah menyebabkan perbedaan dalam pilihan kosakata dan penggunaannya. Oleh karena itu, insiden tersebut menggambarkan penyerapan bahasa yang tidak terasa, tetapi signifikan.
Internasionalisasi bahasa Indonesia bukanlah konsep baru, melainkan bahasa Indonesia seperti sedang berada pada lintasan terbaru. Sebagai lingua franca di seluruh Nusantara selama berabad-abad, bahasa Melayu (pendahulu bahasa Indonesia) digunakan untuk memfasilitasi perdagangan dan pertukaran budaya di seluruh kepulauan Nusantara. Pada periode pascakemerdekaan, bangsa Indonesia mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu nasional. Dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di Sidang Umum UNESCO pada November 2023, bahasa Indonesia makin diakui di kancah internasional.
Kebijakan nasional Indonesia sangat mendukung peningkatan global ini. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera , Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan adalah landasan penting bagi hal tersebut. Contohnya, Pasal 32 mengamanatkan penggunaan bahasa Indonesia dalam forum resmi, termasuk forum internasional. Lebih lanjut, Pasal 44 mewajibkan pemerintah untuk meningkatkan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Menurut kerangka hukum ini, lembaga seperti Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa diamanatkan untuk secara aktif mempromosikan bahasa Indonesia melalui berbagai program, seperti mengajarkan kepada warga negara asing. Seperti visi pemerintah Indonesia, bahasa Indonesia tidak hanya ditujukan untuk persatuan bangsa, tetapi juga untuk keterlibatan global.
Pada masa sekarang, tidak diragukan lagi bahwa media adalah alat paling kuat untuk internasionalisasi bahasa Indonesia. Secara khusus, platform digital telah menjadi penyebar yang ampuh untuk menyebarkan pengetahuan bahasa dan budaya. Hal ini sejalan dengan penelitian dan dilakukan oleh Alfaki dan Alharthy (2014) dalam jurnal “Towards a Digital World: Using Social Networks to Promote Learner’s Language”. Mereka menemukan bahwa siswa yang menggunakan media sosial sangat termotivasi untuk berlatih menulis bahasa asing secara informal dan mendapat manfaat dari komentar dan umpan balik. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan dalam pembelajaran dan pengajaran bahasa dan kompetensi komunikatif dan budaya siswa yang menggunakan media sosial dan sumber daya daring lainnya daripada siswa yang tidak. Temuan tersebut juga diperkuat Dahlan, N.F. (2024) dalam jurnal “Media and Culture: The Role of Media and Social Media in The Formation and Dissemination of Popular, Local, Global and International Culture”. Menurut Dahlan, media massa dan media sosial sangatlah penting untuk menyebarkan informasi, hiburan, dan edukasi tentang budaya lokal kepada khalayak luas. Promosi partisipasi masyarakat, komunikasi, dan kolaborasi dapat dilakukan melalui penggunaan media massa dan media sosial.
Ada beberapa platform digital yang berpotensi menjadi penggerak utama dalam internasionalisasi bahasa Indonesia, salah satunya adalah TikTok. Sebagai negara dengan jumlah pengguna TikTok terbesar di dunia, menurut laman Campaign, format video pendek TikTok memiliki kemampuan untuk menyebarkan tren kebahasaan (Campaign. 2025. Behind the Indonesian TikTok paradox: Largest number of users, limited global penetration. Diakses pada 25 Juli 2025. www.campaignindonesia.id). Pembuat konten, musisi, dan komedian di Indonesia memproduksi banyak sekali konten menarik yang melampaui batas negara. Konten ini banyak dikonsumsi oleh audiens muda di negara-negara tetangga, termasuk Malaysia. Selain itu, ada juga YouTube dan layanan alir langsung (live streaming) lainnya. Penonton akan menyerap dialog, nuansa budaya, dan yang terpenting, kosakata standar yang digunakan dalam produksi konten. Pajanan secara terus-menerus akhirnya menormalkan kosakata, frasa, dan bahkan intonasi bahasa Indonesia yang berujung pada penyerapan bahasa yang terjadi tanpa sadar.
Sebagai hasil dari pengaruh media, kejadian guru di Malaysia tersebut terjadi. Ketika makin tenggelam dalam konten digital Indonesia, siswa mulai mengintegrasikan bahasa yang mereka dengar dan baca ke dalam tulisan mereka sendiri, bahkan dalam konteks akademik. Hal ini sejalan dengan jurnal “Linguistic Immersion in the Context of Digital Transformation: Case Study” yang ditulis oleh Nisrine El Hannach (2023). Hannach menyoroti peran sumber daya pembelajaran bahasa digital dan platform media sosial. Keduanya menyediakan lingkungan yang interaktif dan imersif serta memberikan siswa akses ke materi autentik, seperti artikel, video, siniar, dan konten media sosial dalam bahasa target. Paparan terhadap penggunaan bahasa dunia nyata ini kemudian meningkatkan pemahaman budaya dan memfasilitasi pembelajaran bahasa di luar kelas. Hal ini memungkinkan siswa untuk terlibat dalam percakapan autentik dan mendapatkan pengalaman langsung dalam bahasa yang mereka pelajari.
Momen viral tersebut menjadi gambaran kecil dari internasionalisasi bahasa Indonesia yang tenang, tetapi menghanyutkan. Ini adalah bukti keberhasilan kebijakan bahasa Indonesia dan yang lebih penting, kekuatan lunak (soft power) medianya. Meskipun terkadang menyebabkan gesekan mengenai kemurnian bahasa nasional tetangga, hal ini pada akhirnya memperkaya lanskap bahasa Melayu yang lebih luas dan memperkuat status bahasa Indonesia sebagai bahasa regional dan global yang penting.
