Balai Bahasa Maluku Gelorakan Semangat Pelestarian Bahasa Daerah

Balai Bahasa Provinsi Maluku menggelar serangkaian lomba sebagai bagian dari Festival Tunas Bahasa Ibu Provinsi Maluku Tahun 2025. Kegiatan ini digelar untuk memeriahkan festival sekaligus mengajak generasi muda Maluku untuk melestarikan bahasa daerah. Lomba yang berlangsung pada 28–29 November 2025 ini meliputi lomba bertutur cerita rakyat Maluku, lomba mewarnai, lomba menyanyi, lomba kelimun kilas (flash mob), dan lomba unggahan paling  kreatif. Kegiatan ini diikuti siswa dari tingkat TK, SMP, dan masyarakat umum dengan harapan dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa dan budaya daerah Maluku. 

Antusiasme peserta tampak pada seluruh rangkaian lomba. Lomba kelimun kilas diikuti oleh 60 peserta. Lomba mewarnai untuk taman kanak-kanak (TK) diikuti oleh 50 peserta. Untuk lomba bertutur, kategori A diikuti 25 peserta dan kategori B diikuti 24 peserta. Adapun lomba menyanyi tingkat SMP diikuti 24 peserta dan lomba unggahan kreatif diikuti 7 peserta. Pelaksanaan lomba berlangsung selama 2 hari. Pada hari pertama, lomba bertutur dan lomba menyanyi dilaksanakan di Gedung Pertunjukan Balai Bahasa Provinsi Maluku, sedangkan pada hari kedua dilanjutkan dengan lomba mewarnai serta lomba kelimun kilas di tempat yang sama.

Lomba mewarnai bagi anak-anak tingkat TK mengusung konsep literasi sejak dini, termasuk literasi dengan bahasa daerah. Peserta diajak untuk mewarnai maskot Balai Bahasa Provinsi Maluku, yaitu Bebeta dan Ako yang digambarkan sedang membaca. Visual maskot tersebut yang familier dan ramah anak dikonsepkan untuk menanamkan pesan bahwa membaca merupakan kegiatan yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Lomba bertutur cerita rakyat berbahasa daerah merupakan upaya untuk menghidupkan kembali tradisi tutur dan sastra lisan yang berakar pada budaya Maluku. Melalui kegiatan ini, peserta diajak menggali kekayaan cerita rakyat dan legenda dalam bahasa daerah. Lomba ini memperkuat kemampuan berbahasa, berkomunikasi, dan bercerita sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa daerah.

Lomba menyanyi dengan menggunakan bahasa daerah bertujuan memperluas dan melestarikan penggunaan bahasa daerah melalui musik. Lagu-lagu yang dinyanyikan menjadi sarana untuk memperkenalkan kosakata, ungkapan, dan nilai budaya. Melalui nada dan lirik lagu Melayu Ambon, peserta tidak hanya menampilkan kemampuan vokal, tetapi menghidupkan kembali warisan budaya yang menjadi identitas kedaerahan.

Selanjutnya, untuk lomba kelimun kilas (flashmob) dengan musik dan lagu berbahasa daerah menghadirkan pelestarian bahasa daerah dengan cara yang menarik. Lagu berbahasa daerah dijadikan pengiring tarian dan koreografi sehingga bahasa tidak hanya didengar, tetapi juga dihayati melalui gerak, irama, dan kebersamaan. Lomba ini menegaskan bahwa bahasa daerah dapat tampil dinamis, menyenangkan, dan relevan bagi generasi muda tanpa kehilangan makna.

Pada lomba mewarnai tingkat TK, juara pertama diraih oleh Fadiyah Valiqa F. Dukalang dari TK Kemala Bhayangkari Tantu. Juara kedua ditempati I Gede Dana Narendra dari TK Bhayangkari 03 Prigen Lima Ambon, sedangkan juara ketiga diraih oleh Hamizan Kapailu dari RA Al Hikmah Ambon.

Pada lomba bertutur cerita rakyat Maluku, kategori A (SD kelas 1–3) menempatkan Jenifer Sobaley dari SD Inpres 28 Ambon sebagai juara pertama, disusul oleh Yvet Zara Neka dari SD Negeri 2 Lateri sebagai juara kedua, dan Gresti Siwtenia Sipahelut dari SD Negeri 41 Ambon sebagai juara ketiga. Sementara itu, kategori B (SD kelas 4–6) dimenangkan oleh Freya Elsha Kirana dari MIT As-Salam Ambon sebagai juara pertama. Juara kedua diraih oleh Joel C. Kakisina dari SD Citra Kasih Ambon, dan juara ketiga diraih oleh Chloevania Everly Siegers yang juga berasal dari SD Citra Kasih Ambon.

Pada lomba menyanyi tingkat SMP, juara pertama diraih oleh Gad This Ratu Talakua dari SMP Negeri 7 Ambon, juara kedua adalah Yoel Imannuel Nahuway dari SMP Negeri 7 Ambon, dan juara ketiga adalah Thompson Mikayla Mackenzie Rieuwpassa dari SMP Kristen Kalam Kudus.

Untuk lomba kelimun kilas untuk masyarakat umum, juara pertama dimenangkan oleh tim Hamard, juara kedua diraih oleh tim SMA Negeri 13, juara ketiga diraih oleh Ulupaha Malona Mahina, dan juara keempat diraih oleh tim Panti LL Squad. 

Setelah melalui penilaian, pemenang lomba ditetapkan berdasarkan kesesuaian tema dan kualitas penyajian unggahan. Adapun akun yang berhasil meraih kemenangan dalam kategori ini adalah Vanodevauck, kings_angwrmasse, Freyaelsha, dernazzario, dan feardysphlt. Kelimanya dinilai mampu menghadirkan karya kreatif yang unik dan memiliki daya tarik kuat dalam menyampaikan pesan lomba.

Selamat kepada seluruh pemenang yang telah menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Apresiasi juga diberikan kepada seluruh peserta yang berpartisipasi dalam Rangkaian Lomba  Festival Tunas Bahasa Ibu Provinsi Maluku Tahun 2025. Melalui kegiatan ini, Balai Bahasa Provinsi Maluku berharap kecintaan terhadap bahasa dan budaya daerah terus tumbuh di kalangan generasi muda sebagai bagian penting dari identitas dan warisan budaya Maluku.

Selain rangkaian lomba, Festival Tunas Bahasa Ibu Provinsi Maluku 2025 juga diwarnai dengan sesi Bincang Santai Bersama Ali Akbar yang mengusung tema “Dari Logat Lokal Lahir Tohokan Nasional”. Dalam sesi yang dipandu oleh Alensia Lenora Ampoa dan Clarisa Fransina Watloly, Ali menegaskan bahwa logat daerah merupakan ciri khas sekaligus identitas kuat yang perlu dijaga. ”Tidak ada yang bisa saya jual selain menjadi diri sendiri dengan tetap menghidupkan karakter daerah,” ujarnya. Juara dua Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) Musim 9 tersebut turut mendorong generasi muda untuk bangga membawa dialek daerah di mana pun mereka berada. Menurutnya, logat tidak hanya memperkuat jati diri, tetapi juga membuka ruang bagi orang lain untuk mengenal dan mencintai bahasa daerah masing-masing.

Scroll to Top