Cara Bertahan Hidup Masyarakat Desa Patti, Kabupaten MBD yang Tecermin pada Kosakata Budaya

Nita Handayani Hasan, S.S., M.Hum.
Widyabasa Ahli Muda Balai Bahasa Provinsi Maluku

Desa Patti merupakan salah satu desa tertua di Pulau Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. Masyarakat di desa tersebut merupakan komunitas pesisir yang memiliki tantangan ekologis dan sosial yang khas. Tantangan ekologis dan sosial yang dihadapi masyarakat Desa Patti timbul dari kondisi geografisnya, yakni adanya ketergantungan pada laut dan sumber daya lokal, akses logistik yang kuat, dan keterbatasan sumber pangan. 

Tantangan kehidupan yang dialami oleh masyarakat Desa Patti turut dirasakan oleh penulis saat berkunjung ke desa tersebut untuk mencari kosakata budaya. Saat awal berkunjung pada bulan Maret 2025, penulis dan tim tidak merasa kesulitan mencari bahan makanan, khususnya sumber protein. Ikan dan telur tersedia dengan mudah. Setiap pagi dan sore, penulis bisa dengan mudah menemukan anak-anak menjajakan ikan. Namun, hal tersebut berbanding terbalik saat kami berkunjung pada bulan Mei. 

Pada bulan Mei, penulis merasa kesulitan untuk membeli ikan. Harga telur dan ayam pun naik serta langka di pasar. Menurut pengakuan masyarakat, pada bulan tersebut, mereka kesulitan mencari ikan di laut. Hal tersebut disebabkan oleh musim ombak. Biasanya pada musim tersebut, akses bahan makanan ke Patti agak tersendat. Bahkan, ikan sebagai sumber protein utama sangat sulit didapat. 

Berdasarkan pengalaman tersebut, tidak mengherankan jika di Desa Patti banyak ditemukan kosakata budaya yang berhubungan dengan cara masyarakat mempersiapkan bahan makanannya untuk menghadapi musim paceklik. Berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh adat di Desa Patti, penulis menemukan kosakata kuliner khas. Kosakata tersebut dapat dilihat pada kolom berikut ini. 

No.Kosakata (kelas kata)Definisi
1.olayoole (n)Biji mangga yang sudah dikeringkan, dikupas untuk diambil bagian dalamnya, diris-iris, dijemur selama 3 hari, disimpan di karung, jika akan dimakan, biji tersebut dicuci bersih dan dikeringkan, biasanya dijadikan pengganti nasi ketika musim paceklik.
2.olayipre (n)Manisan mangga yang terbuat dari irisan mangga yang sudah dijemur selama 3 hari, ditaburi gula halus, disimpan di dalam plastik, dan bisa bertahan lebih dari 1 tahun.
3.wloinye kerne (n)Petatas yang isinya diris-iris, dijemur selama 4 hari hingga kering, disimpan di dalam drum, dan dapat bertahan lebih dari 1 tahun.
4.namlaye kerne (n)Singkong yang isinya diris-iris, dijemur selama 3 hari hingga kering, disimpan di dalam drum, dan dapat bertahan hingga lebih dari 1 tahun.
5.urnorme (n)Sukun yang sudah dibakar, kulitnya dibersihkan, dagingnya diiris-iris, lalu dijemur selama 3 hari, dan dapat bertahan hingga lebih dari 1 tahun.
6.tali ororyulte (n)Tali yang terbuat dari kulit kerbau, biasanya digunakan untuk mengikat kerbau; Makanan dari kulit kerbau, dimakan saat paceklik. 
7.sisise (n)Makanan yang terbuat dari daging kerbau yang dicincang dan dibumbui, dimasukkan ke usus kerbau yang sudah dicuci bersih, kemudian diasap hingga kering, dan dapat bertahan lebih dari 1 tahun.
8.dukti wnirne (n)Dendeng daging kerbau. Daging kerbau dipotong tipis berukuran dua kali telapak tangan, diberi garam, dan dijemur atau diasapi hingga kering.
9.lokre mangkue (n)Penyimpanan jagung kering, terbuat dari anyaman daun lontar yang berbentuk, seperti drum.
10.nunawowe (n)Penganan yang terbuat dari buah pohon beringin.
11.ewyaroole (n)Kosakata (kelas kata)

Kosakata, seperti olayoole, olayipre, wloinye kerne, namlaye kerne, dan urnorme, mencerminkan pengetahuan adaptif terhadap musim paceklik. Proses pengeringan, penyimpanan, dan pengawetan makanan menunjukkan kesadaran ekologis terhadap siklus kelangkaan pangan. Menurut Sharifian (2017) dalam Cultural Linguistics: Cultural Conceptualisations and Language, kosakata seperti ini mengandung  skema budaya (cultural schemas), yaitu pola konseptual kolektif yang membentuk perilaku masyarakat. 

Kosakata, seperti sisise, dukti wnirne, dan tali ororyulte, bukan sekadar makanan tahan lama, melainkan juga bagian dari praktik sosial karena dibuat bersama dan dikonsumsi dalam ritual atau saat bencana. Dalam pandangan etnolinguistik, bentuk kolektif seperti ini menunjukkan nilai kebersamaan (communal resilience). 

Pola konseptual kolektif dan nilai kebersamaan dalam kosakata budaya yang terdapat dalam bahasa Moa di Desa Patti menunjukkan keeratan dalam hubungan bahasa dan budaya. Kata-kata yang dipakai masyarakat sering kali mengandung klasifikasi, kontrak sosial, dan teknik adaptasi. Hal tersebut sejurus dengan teori relativitas bahasa yang dicetuskan oleh Sapir-Whorf (1920), yaitu bahwa kata-kata dan struktur suatu bahasa memengaruhi cara penuturnya berpikir tentang dunia, bagaimana mereka berperilaku, dan pada akhirnya budaya itu sendiri.

Kosakata budaya masyarakat Desa Patti adalah wujud konkret dari pengetahuan lokal dan strategi bertahan hidup di lingkungan yang keras. Setiap istilah memuat makna ekologis, sosial, dan spiritual yang diwariskan secara kolektif. 

Melalui pendekatan etnolinguistik, kosakata tersebut terbaca sebagai sistem konseptual budaya yang berfungsi menjaga keseimbangan manusia dan alam, sedangkan melalui hipotesis Sapir-Whorf, kosakata itu terbukti membentuk cara berpikir dan tindakan adaptif masyarakat dalam menghadapi ancaman lingkungan dan musim paceklik.

Scroll to Top